2025-12-12
Pada tanggal 10 Desember, bagian Internasional Economic Daily (Halaman 04) menerbitkan artikel berjudul "Berbagai Industri di Jepang Dilanda Kecemasan Logam Tanah Jarang."
Teks lengkapnya adalah sebagai berikut:
Baru-baru ini, para ekonom Jepang mencatat bahwa pemerintah dan industri Jepang memantau ketat penerapan kontrol ekspor China terhadap barang-barang terkait logam tanah jarang.
Dalam beberapa tahun terakhir, Jepang telah mempercepat upaya untuk diversifikasi sumber pasokan, mengembangkan bahan alternatif, memperkuat cadangan nasional, dan mempromosikan daur ulang untuk mengurangi ketergantungannya pada logam tanah jarang China. Statistik menunjukkan bahwa ketergantungan Jepang pada impor logam tanah jarang China telah menurun dari sekitar 90% menjadi sekitar 60%. Namun, ketergantungannya pada kategori kritis tetap sangat terkonsentrasi. Logam tanah jarang berat seperti dysprosium (Dy) dan terbium (Tb), yang penting untuk magnet neodymium yang digunakan dalam motor penggerak kendaraan listrik, hampir 100% bergantung pada pasokan China. Setiap pembatasan masih akan menimbulkan guncangan signifikan pada ekonomi Jepang.
Analisis menunjukkan bahwa lima sektor utama—otomotif, komponen elektronik, tenaga angin, peralatan medis, dan dirgantara—akan menanggung beban terberat jika China memberlakukan kontrol ekspor. Dalam industri otomotif, kendaraan listrik dan hibrida bergantung pada magnet neodymium untuk motor penggerak. Produsen mobil Jepang sebelumnya telah menangguhkan produksi model tertentu karena kekurangan logam tanah jarang, dan teknologi alternatif belum dikomersialkan. Dalam elektronik, logam tanah jarang banyak digunakan dalam ponsel pintar, peralatan manufaktur semikonduktor, dan hard disk drive, dengan bahan fluoresen dan magnetik yang sangat sulit diganti. China memegang keunggulan yang luar biasa dalam proses pemurnian. Peralatan tenaga angin juga sangat bergantung pada magnet berkinerja tinggi, sementara teknologi alternatif menghadapi masalah penurunan efisiensi dan biaya yang lebih tinggi. Dalam peralatan medis, magnet kuat yang digunakan dalam perangkat seperti pencitraan resonansi magnetik (MRI) tidak dapat digantikan tanpa logam tanah jarang. Sektor dirgantara, termasuk mesin dan peralatan pertahanan, secara ekstensif menggunakan paduan dan magnet logam tanah jarang, yang menyisakan lebih sedikit ruang untuk substitusi.
Para ekonom Jepang memperkirakan bahwa jika pembatasan ekspor logam tanah jarang China berlanjut selama tiga bulan, kerugian ekonomi Jepang akan mencapai sekitar 660 miliar yen, setara dengan penurunan 0,11% dalam PDB nominal dan riil untuk tahun itu. Jika pembatasan berlangsung selama setahun, kerugian ekonomi akan meluas menjadi sekitar 2,6 triliun yen, mengurangi PDB sebesar 0,43%.
(Sumber: Zhengshi'er)
Kirim pertanyaan Anda langsung ke kami